Rabu, 25 Desember 2013

BAYANGNYA DI UJUNG TAPAL SENJA



BAYANGNYA DI UJUNG TAPAL SENJA

bayangnya di ujung tapal senja
wajah ramah, kini melamun menungguku

rindu menggebu, senja kelabu
di pipiku terpampang wajah sendu
senja menjingga, jalan terbuka, tapi dia
bayangannya terlalu jauh di sana

di keriput pipinya, di mata yang berbinar sabar
di segala kerinduan memapah beku
jarak mengelak, sambil bergumam:
“kapan bayanganku ‘kan sampai di tapal senja?”

oh, dia telah lama merapal waktu!
bayangan perlahan telah mulai luluh
sementara jarak telah semakin jauh
namun kita masih belum sempat berjabat

wajah itu masih di sana
aku menunggu, kebersamaan kami pasti ‘kan abadi

Mendalo, 22 November 2013

Kamis, 12 Desember 2013

PUISI



SIGINJAI BERKISAH
(Herti Gustina)

di tepi Sungai Batanghari, Jambi menguntai kisah
Siginjai bertapa di kepala raja
dalam darah para sejarah
mengumpan amarah sang petuah
Rangkayo Hitam memendam dendam
Mataram pun mengeram geram

diramu dari tujuh besi
dimandi kembangkan oleh tujuh muara
keris menari mengiris duka
sengketa menuai cerita
dalam Pamalayu keris berkarya
di sinilah sejarah berkisah

Mendalo, 20 Oktober 2013

Rabu, 11 Desember 2013

HARU BIRU TANOH SAKTAI



HARU BIRU TANOH SAKTAI

dalam dekapan sunyi kabut menguntai kisah
kenangan menepi di Danau Kerinci
ketika kuberkaca di tepi telaga
wajah seolah jauh merambah di dasar Danau Kerinci
Telun Berasap mengasapi wajahku yang hendak padam
rindu seakan menguak kalbu
merayap di atas hamparan Kayu Aro

di batas sepiku
mantera-mantera merenggutku kembali ke dekapan ibu
shalawat bernyanyi di kiri kananku
menggelinding seluruh tubuh dalam basah Aroma Peco

saat menapak keluar di batas tanoh saktai
kapak seakan mengiris segala ingatan
memeras keringat yang dulunya pernah hinggap di tanah
menumbuhkan sampah menjadi pelepah
menyemai duri menjadi biji
saat Aurduri menghampiri
resah gelisah seakan mengguyur urat nadiku
mengulur haru akan jati diri
hidup ataukah mati

Herti Gustina
Kerinci, 12 Oktober 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Puisi



ESA
(Tema harapan. Bagian 2. Herti Gustina)

hati terus saja meronta
di balik jeruji dia masih bisa tertawa
kuterawang setiap ruang waktu
masih terselip pedang tajam yang menghujam zaman
sampah yang mengerak terporak-porandakan oleh masa
esa terbelah dalam kuasa
runtuh, luluh dalam sejuta keluh

sudahlah, ini hanya permainan waktu
perputaran rotasi yang terus merevolusi
tunggu saja, matahari masih berselimutkan awan
masih sempat untuk kita memadukan langkah
tidak ada kata perang, hanya ada dentuman meriam
di balik singgasana tahta
di sana kita akan bercumbu dengan senapan
ya, senapan kata yang membuka mata
di balik kaki sang garuda
kita adalah esa

Mendalo, 29 November 2013

Minggu, 01 Desember 2013

PUISI



BINGKAI JENDELA TUA

Meniti hari dengan kelu
Seumpama mengusir pilu di bingkai jendela tua
Gagang rapuh yang hendak runtuh
Mengaduh dalam luluh

Daun cemara enggan meluruh
Ingin menata tanpa kasta
Dalam setiap dengungan sang biara
Berdiam menikam senyap
Melamun dalam kurun yang hendak lenyap

05 Mei 2013