BAYANGNYA
DI UJUNG TAPAL SENJA
bayangnya di ujung
tapal senja
wajah ramah, kini
melamun menungguku
rindu menggebu, senja
kelabu
di pipiku terpampang
wajah sendu
senja menjingga, jalan
terbuka, tapi dia
bayangannya terlalu
jauh di sana
di keriput pipinya, di
mata yang berbinar sabar
di segala kerinduan
memapah beku
jarak mengelak, sambil
bergumam:
“kapan bayanganku ‘kan
sampai di tapal senja?”
oh, dia telah lama
merapal waktu!
bayangan perlahan telah
mulai luluh
sementara jarak telah
semakin jauh
namun kita masih belum
sempat berjabat
wajah itu masih di sana
aku menunggu,
kebersamaan kami pasti ‘kan abadi
Mendalo, 22 November
2013