BULAN MERAH
Oleh: Herti Gustina
Hiruk pikuk awan kelabu
samar-samar menebarkan dendam alam
menyelimuti kota ramai berpenghuni, tak peduli
sentilan alam hanya basa-basi, katanya
menutup muka, berpaling mata
seolah tak ada apa-apa
Matamu, mata berasap
tampak, tapi tak tampak
sulut api, lalu pergi
rimba meleleh jadi kabut
matahari terbakar
bulan merah padam
ditutupnya mata, tapi tak menangis
Tanah Pilih memanas, ganas
kabut sembunyikan Pesako Betuah
Bumi Pertiwi menggelengkan kepala
anak negeri angkat kepala
Jambi, 1 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar