BULAN MERAH
Oleh: Herti Gustina
Hiruk pikuk awan kelabu
samar-samar menebarkan dendam alam
menyelimuti kota ramai berpenghuni, tak peduli
sentilan alam hanya basa-basi, katanya
menutup muka, berpaling mata
seolah tak ada apa-apa
Matamu, mata berasap
tampak, tapi tak tampak
sulut api, lalu pergi
rimba meleleh jadi kabut
matahari terbakar
bulan merah padam
ditutupnya mata, tapi tak menangis
Tanah Pilih memanas, ganas
kabut sembunyikan Pesako Betuah
Bumi Pertiwi menggelengkan kepala
anak negeri angkat kepala
Jambi, 1 September 2015
Selasa, 01 September 2015
Selasa, 06 Januari 2015
NYALA REDUP
NYALA REDUP
aku mulai jenuh dengan keadaan ini,
tapi tak ada alasan untuk katakan tidak
sebuah harapan mengharuskan untuk selalu terjaga
tercekik oleh poros waktu
siapa yang tahu kalau lelahku telah leleh
di dasar pijar redup bara semangat
yang dulunya cahaya berkobar
menarikan lagu harapan
apakah mungkin mampu?
mereka katakan mampu,
tapi kenyataannya tak mampu tiupkan kembali bara itu
sebuah harapan besar justru menelan jauh
terperosok di dasar kejenuhan
mereka mengerti,
tapi mereka yakin
hapus jenuh, cairkan peluh yang bermakna
HG. 2 September 2014
Senin, 05 Januari 2015
KAU
KAU
Kau yang di sana, ceritakan padaku apa yang sebenarnya kuinginkan
karena kutak mampu membaca sendiri alur cerita hidupku
setiap lakon yang kumainkan,
setiap lagu yang kunyanyikan,
dan setiap bayangan yang terlukis
takkan mampu kumaknai sendiri
Kau yang di sana
aku tahu kau yang pegang naskah drama hidupku
tunjukkanlah padaku apa akhir kisah hidupku
apakah hanya sebatas senyum seremonial belaka
atau berhenti pada hujan dia atas bentangan putih
HG, 3 September 2014
Sabtu, 03 Januari 2015
PETAKA JALANAN
PETAKA JALANAN
Raung menyalak di pagi yang hening
ratapan jalanan memula hari
serentak adukan gubuk berserak di jalanan
melotot kesurupan, luluh lantahkan petaka
kusaksikan petaka jalanan
sontak bulir-bulir di mata berontak
mengguyur kekejaman yang mencekam
bibir bergetar ingin mencibir sekelumit perintah
yang katanya rumit
tapi aku kerdil di antara kuasa-kuasa alam
Kaku, terpaku oleh perintah sang waktu
teriakan hati menyalak pecah
HG, 17 September 2014
"Mereka juga Kita"
Langganan:
Komentar (Atom)